DOMPET KEMANUSIAAN


Miskin sakit, hubungi PMI Solo

Kalimat pendek di atas cukup menggelitik rasa ingin tahu kita. Menggelitik karena berhubungan dengan orang sakit, orang miskin dan PMI. Seharusnya yang tepat adalah miskin berhubungan dengan dinas sosial di Pemerintahan Kota atau Kabupaten dan kata sakit menjalin hubungan yang mesra dengan obat atau rumah sakit. Tetapi dua kata itu (miskin dan sakit) malah berhubungan dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Solo. Bagaimana bisa? Apakah PMI punya rumah sakit dan mendirikan dinas sosial? Jawabannya adalah bisa. Bisa dalam artian mereka orang yang sakit, menderita dan miskin bisa menghubungi PMI kapanpun dan PMI Solo dengan sigap akan membantu.

Lagi-lagi pertanyaannya adalah bagaimana bisa PMI Solo membantu seperti itu? Padahal sudah lama diketahui PMI Solo tidak mendapat dana lagi dari Pemerintah Kota Surakarta. Lantas apa yang dilakukan oleh PMI Solo sampai seberani itu membuat slogan ‘miskin sakit hubungi PMI’. Membuat slogan seperti ini tidak main-main. Sama tidak main-mainnya ketika dengan cerdas Presiden Pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno mengintruksikan pada Menteri Kesehatan saat itu Dr. Boentaran, untuk segera mendirikan badan Palang Merah Indonesia sebagai salah satu syarat kemerdekaan dan kedaulatan Negara.

Sejak 1998 PMI Solo berhenti menghimpun dana dari masyarakat yang biasa disebut dengan Bulan Dana yang biasanya dibebankan pada masyarakat. Bulan Dana tersebut resmi dihentikan karena pada tahun tersebut kota Solo tengah mengalami kerusuhan yang berimbas pada krisis moneter. Pengurus PMI saat itu merasa tidak tega dan tidak pas bila masih membebani masyarakat dengan Bulan Dana melihat kondisi hampir di semua lini perekonomian tengah terpuruk. Di samping menghentikan Bulan Dana, PMI Solo sendiri juga tidak menerima bantuan dana secara regular dari APBD Surakarta. Secara otomatis, pengurus PMI harus pintar-pintar dan memikirkan cara yang tepat untuk menghimpun dana dan mengembalikan dana tersebut pada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk sosial kemanusiaan. Akhirnya pada bulan Juli tahun 2012 PMI Solo melaunching program baru dalam penggalangan dana yang melibatkan masyarakat yaitu Dompet Kemanusiaan PMI Solo. Dompet Kemanusiaan ini fenomenal karena mengikuti intruksi dari Ketua saat ini, Pak Santo selalu menekankan dana atau saldo di Dompet Kemanusiaan tidak boleh menyisakan saldo terlalu banyak. Pengurus PMI Solo harus rajin mencari, jemput bola langsung ke masyarakat mencari mereka yang butuh dibantu.

Sejak diluncurkan dalam program Dompet Kemanusiaan Unit Markas PMI cabang Surakarta, program miskin sakit hubungi PMI ini hingga sekarang tetap menerima pasien masyarakat kota Solo yang sakit dan perlu dibantu. “Syaratnya cuma dua, miskin dan sakit atau miskin dan menderita pasti kami akan sigap merespon,” urai Tri Wuryanto.

Hingga hari ini menurut Tri, dana yang tersedia di kantong Dompet Kemanusiaan tetap terpenuhi untuk masyarakat yang miskin dan sakit.

“Selagi berlebih mari kita beri pada yang kurang karena kita tidak tahu apa yang terjadi setelah detik ini”

Tidak hanya masyarakat umum dalam kategori usia dewasa yang menjadi sasaran PMI untuk diajak berbagi. Sejak dini, PMI juga mempunyai program yang menyasar pada anak-anak usia sekolah untuk ikut belajar berbagai pada sesama. Untuk anak sekolah, PMI Solo menerapkan konsep beramal dengan program ‘Hari Berbagi’. Anak sekolah bisa menyisihkan separoh uang sakunya sekali saja dalam satu bulan untuk dimasukkan dalam ‘Hari Berbagi’. Tidak berhenti pada menyisihkan uang saku tetapi anak-anak diajak ikut terlibat untuk memberikan masukan siapa saja yang perlu dibantu dari dana yang terkumpul itu. Misalnya ada tetangganya yang sakit dan miskin dan membutuhkan bantuan, anak-anak bisa memberitahukan pada PMI atau pihak sekolah. selain anak-anak bisa merasa bermanfaat bagi orang lain, mereka juga secara tidak langsung terus-menerus diasah rasa kepekaan sosial, kepedulian pada orang lain dan memiliki jiwa sosial. Target PMI Solo untuk anak-anak ini adalah character building.

Menilik akar dari fungsi dan tugas Palang Merah, sesungguhnya kegiatan PMI untuk menolong korban perang, entah itu korban dari lawan ataupun kawan, dengan prinsip tidak membedakan siapa yang harus ditolong. Tetapi PMI Solo dalam perjalanannya saat ini tidak sekedar menunggu tetapi melakukan berbagai hal yang berhubungan dengan sosial dan masyarakat. Sesuai dengan visi PMI menjadi organisasi yang professional, berkarakter dan dicintai masyarakat, maka PMI Solo melakukan banyak hal untuk mewujudkan visi misi tersebut. Ini bukan hal mudah, tetapi apabila organisasi itu sudah professional dan mempunyai karakter yang bagus, otomatis akan dicintai oleh masyarakat, dan apa yang PMI Solo lakukan mulai dari hal yang sederhana sampai yang fenomenal bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

‘Tidak perlu wah untuk mewah’ gambaran seperti ini yang bisa dilihat dari PMI Solo. Mulai dari penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat, baik itu melalui PKK, kelurahan, sekolah sekolah, karang taruna dan komunitas lainnya tentang kesehatan (bahaya narkoba, HIV Aids dan sebagainya). Kemudian juga kegiatan yang berhubungan langsung dengan penderitaan masyarakat. PMI melakukan upaya supaya penderitaan masyarakat terkurangi. Menampung laporan masyarakat yang langsung ditindak lanjuti dengan survey, melihat langsung mereka yang sebatang kara, sakit, menderita, tidak punya biaya berobat, langsung melakukan pemetaan tindakan. Pasien bila perlu penanganan medis lanjutan akan dibawa ke rumah sakit, bila harus dioperasi akan diajukan untuk operasi dan bila harus di operasi di Jakarta atau di kota lain, Dompet Kemanusiaan juga langsung mengusahakan cara dan usaha untuk mendampingi pasien dan keluarga hingga ke Jakarta. Tidak hanya bagi orang sakit tetapi ada juga laporan dari warga, ada tetangganya yang tidak mampu hingga tidak bisa makan, PMI akan langsung mendatangi dan memberikan makanan berupa sembako bagi orang tersebut. “Kami tahu menghilangkan penderitaan orang itu tidak bisa tetapi minimal PMI sedikit berperan untuk mengurangi penderitaannya,”tambah Tri.

Untuk masalah keuangan, PMI Solo setiap tahun diaudit oleh Kantor Akuntan Publik. Kepala Bagian Keuangan dan Admin PMI Solo, Agus Setyo Utomo, menjelaskan keuangan PMI selalu transparan pada masyarakat. Laporan tentang pendapatan dana dan pengeluaran dana tercatat secara rinci. Laporan keuangan PMI dibuat sesuai PSAK 45 sebagai lembaga atau organisasi nirlaba/nonprovit yang berisi tentang laporan aktivitas, laporan posisi keuangan dan laporan arus khas. “Semua dana dari masyarakat kita kembalikan utuh ke masyarakat lagi untuk sosial, membantu bencana dan pendapatan di luar dana dari masyarakat yang kita dapatkan dari unit usaha PMI kita gunakan untuk operasional PMI,” jelas Agus. Agus merasakan kepemimpinan periode ini semua lini dimaksimalkan untuk menggalang dana, mencari pemasukan di luar dana sosial dan memaksimalkan penyaluran dana untuk sosial. “Yang selalu ditekankan oleh Pak Santo adalah tidak boleh ada saldo mengendap terlalu banyak karena ini berarti kita tidak maksimal menyalurkan dana ke masyarakat,” ungkapnya.

Lantas bagaimana PMI mendapatkan dana untuk operasional sedangkan PMI Solo juga sudah tidak lagi menerima bantuan dana dari APBD Pemerintah Kota Surakarta, sedangkan harus menggaji karyawan, mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk operasional harian PMI Solo. Lewat unit usaha, pelatihan-pelatihan inilah PMI Solo mendapatkan dana di luar dana sosial.

Unit usaha yang ada di PMI Solo juga banyak diminati oleh masyarakat. Seperti Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) PMI Solo memberikan pelatihan keterampilan yang berhubungan dengan kesehatan diajarkan kepada peserta didik seperti merawat orang sakit, merawat orang tua, bayi dan dilengkapi soft skill, kondisinya saat ini peserta yang belum lulus sudah banyak yang dipesan oleh intansi ataupun lembaga kesehatan lain, semua pelatihan ini dikemas dengan program Asisten Paramedis. PMI Solo juga mempunyai PTTD (Pendidikan Tenaga Tranfusi Darah) selama 1 tahun. PTTD ini melatih bagaimana mengajak orang supaya mau donor darah, bagaimana mengambil darah, memproses darah sampai siap diberikan kepada pasien dan bagaimana mengajak orang supaya mau donor darah lagi atau rutin mendonorkan darahnya. Peserta didik juga dibekali dengan ketrampilan yang sifatnya untuk memberikan pelayanan dari awal hingga paripurna.

PTTD PMI Kota Solo sudah menerima peserta dari seluruh Indonesia. Saat ini proses perijinan D3 Tranfusi Darah sudah dalam tahap akhir sehingga mulai tahun 2013 Akademi Tranfusi Darah PMI Solo sudah bisa menerima mahasiswa.