Griya PMI Peduli


Bahagia di Usia Senja Bersama PMI Solo

Bahagia di usia senja adalah hak setiap manusia. Tetapi kenyataannya banyak sekali saudara-saudara kita di usia senja yang jauh dari kebahagiaan bahkan terlantar di jalanan. Melihat hal itu, pengurus PMI Solo tergerak untuk mencoba berbuat membahagiakan mereka melalui program Griya Bahagia.

Dari total luas tanah di Mojosongo tersebut seluas 5 ribu meter, sengaja dibagi 3 gunanya diperuntukkan untuk pembangunan Griya PMI Peduli, Griya Bahagia dan Griya Ceria. Griya PMI Peduli sudah berjalan selama empat tahun ini, yang terbaru PMI Solo kembali membangun Griya Bahagia yaitu rumah untuk mereka yang berusia senja. Griya Bahagia difungsikan untuk menampung orang lanjut usia terlantar ataupun yang sudah tidak punya keluarga. Mengajak orang tua untuk mau dirawat dan bergabung dengan komunitasnya di Griya Bahagia tidak semudah banyangan kita. Mendapat tempat dan asupan gizi yang layak tidak serta merta menarik minat orang-orang tua yang terlantar. Butuh pendekatan khusus pada orang tua tersebut, memberi pengertian pada mereka secara pelan dan kontinyu. Karena banyak yang lebih memilih bebas berada di jalanan tetapi mereka tidak mengingat penyakit yang bisa menyerang karena tidak berada di tempat yang layak.

Warga di Griya Bahagia juga membutuhkan perhatian ekstra dari pengurus dan perawatnya. Mereka adalah para lansia yang usianya benar- benar sudah lanjut dan sudah tidak bisa beraktivitas seperti orang muda. Selain perubahan fisik yang jelas terlihat, para lansia ini juga mengalami perubahan cara berpikir. Banyak yang berubah menjadi seperti anak- anak lagi. Kalau masih anak-a nak bila rewel kita bisa menggendongnya dan menenangkannya dengan berbagai cara. Tetapi, untuk orang yang sudah tua tentu saja cara yang sama tidak bisa diterapkan bahkan lebih rumit lagi menanganinya.

Sejak diresmikan pada bulan Mei tahun 2015 dan baru 3 bulan Griya Bahagia sudah menampung sebanyak 26 orang. Ketika saya berkunjung di Griya Bahagia, saya disambut sapaan hangat seorang perempuan tua, dari situ hati saya seakan meleleh dan langsung teringat ibu saya di rumah. Berbincang dengan salah satu perawat di Griya Bahagia, Rachmad Aditya cukup banyak cerita yang mengalir meskipun baru 3 bulan Griya Bahagia berdiri. Meskipun mengaku repot apalagi kalau banyak warga lansia yang rewel, buang air sembarangan, harus dibantu pada saat mandi bahkan dimandikan karena tidak bisa mandi sendiri, pengurus tetap sabar, iklas dan tulus hati melayani warga yang memang banyak yang sudah sangat sepuh dan ada yang terserang stroke sehingga mau tidak mau mengandalkan orang lain untuk semua aktivitasnya.

“Sudah niat saya untuk mengabdikan diri di PMI. Dapat melayani para lansia yang ada di Griya Bahagia ini membuat saya sabar dan tambah iklas dalam menjalani hidup.” ungkap Rachmad, perawat di Griya Bahagia.

Keiklasan yang sama juga dirasakan oleh Titin, petugas dapur yang bertugas memasak untuk semua warga Griya Peduli dan Griya Bahagia. Selama 10 bulan membantu di Griya Peduli, ibu rumah tangga ini melewati banyak kejadian yang seru dan memprihatinkan. Pernah ada kejadian warga Griya yang mengamuk dan memukuli temannya sesama warga hingga teman tersebut harus dirujuk ke rumah sakit karena luka cukup parah. Tetapi diluar kejadian itu ada banyak hal menarik lainnya yang dialami dengan warga yang semuanya adalah keceriaan. Ada juga warga yang lucu yang sampai sekarang lebih suka tidur di kamar mandi.

“Untuk warga Griya PMI Peduli dan Griya Bahagia rata- rata satu warga membutuhkan dana Rp. 500 ribu perbulan. Saat ini di Griya PMI Peduli dan Griya Bahagia ada sekitar 143 orang, hitungan secara kasar saja PMI membutuhkan 50 juta khusus untuk Griya Peduli” papar Ketua Unit Markas Tri Wuryanto.
Namun dari semua tetek bengek dana yang diperlukan PMI Solo, boleh dipercaya atau tidak selalu mencukupi dan mengalir dari tangan- tangan donatur yang peduli akan sesamanya dan PMI Solo pun juga mengalirkan kembali dana dari masyarakat tersebut.

Khusus untuk urusan makan, warga Griya Peduli tidak pernah merepotkannya. Setiap hari ada catatan khusus untuk beberapa warga yang butuh diberi perhatian lebih seperti misal ada yang sakit sehingga tidak boleh makan pedas atau harus di beri tambahan menu seperti susu atau telur pada hari-hari tertentu. Dan setiap sabtu ada tambahan menu seperti kacang hijau yang diberika seusai warga jalan-jalan.

Sementara ini Titin juga bertanggung jawab untuk kebutuhan makan di Griya Bahagia karena belum ada juru masak untuk Griya Bahagia. “Sebenarnya warga di Griya Peduli dan Griya Bahagia ini jarang yang rewel, ada satu dua yang rewel dan kadang bersikap aneh tapi banyak yang mudah diatur, nurut asal kita bisa menyelami hati mereka. Intinya harus tulus memperlakukan mereka maka semuanya akan lancar,” tutur ibu dua anak ini.