Klinik Hemodialisis PMI Kota Surakarta


Klinik Hemodialisis PMI Kota Surakarta merupakan klinik cuci darah yang didirikan pada 22 April 2014. Klinik Hemodialisis dalam pendirianya bertujuan untuk membantu program pemerintah dalam hal penyediaan fasilitas kesehatan Hemodialisis atau cuci darah yang sesuai standar dan mutu, dimana saat ini jumlah pasien dengan kebutuhan tindakan cuci darah kian hari makin meningkat. Klinik Hemodialisis PMI Kota Surakarta telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan sehingga membantu masyarakat dalam pengobatan gagal ginjal terminal atau gangguan ginjal yang membutuhkan terapi hemodialisa, dengan 16 mesin kerjasama dengan Lion Club Solo Bengawan, klinik Hemodialisis PMI Kota Surakarta berusaha meringankan penderitaan masyarakat yang sakit dan tidak punya biaya.

Memasuki Ruang Hemodialisa pasien akan disambut senyum ramah petugas yang ada di dalam. Saat pandangan mengarah ke kanan langsung terpampang beberapa alat cuci darah dan bed untuk pasien. Dari dokter yang bertugas di sana, dr. Raden Ardita Gunadarma saya memperoleh banyak cerita dan kejadian yang mengaduk-aduk perasaan karena pasien yang berada di ruangan Hemodialisa ini mempunyai penyakit khusus yang tidak bisa total disembuhkan karena Klinik Hemodialisa ini khusus untuk membantu pasien gagal ginjal grade 5. Sebagai informasi seorang yang ginjalnya bermasalah mempunyai kategori tingkat keparahan, dari grade 1-3 yang bisa ditangani dengan obat-obatan untuk memperlambat walaupun pada akhirnya kerusakan ginjal ini akan mengalami kenaikan grade juga hingga menuju grade 4 dan 5. Untuk dua grade terakhir ini seorang pasien gagal ginjal selain harus dibantu dengan obat juga harus menjalani cuci darah 2x seminggu untuk membantu mengembalikan kerja ginjal.

Klinik Hemodialisa saat ini setiap hari melayani 16 pasien, dengan 8 mesin utama dan 2 mesin cadangan. Sudah ratusan pasien yang bergantung pada Klinik Hemodialisa PMI Solo. Bisa dikatakan pasien gagal ginjal betul-betul bergantung pada Klinik Hemodialisa PMI Solo sebab klinik ini melayani pasien BPJS dan bagi mereka yang tidak tercover asuransi apapun dalam kondisi tidak mampu akan dibantu pengobatannya dengan dana dari Dompet Kemanusiaan. Dengan sederhana kita bisa menghitung berapa biaya yang seharusnya dikeluarkan oleh pasien bila tidak mampu dan tidak menggunakan kartu BPJS. Sekali cuci darah biayanya sekitar 800 ribu rupiah, dalam seminggu 2x cuci darah total 1.6 juta rupiah dan dalam satu bulan harus membayar 6.4 juta untuk cuci darah selama seumur hidup belum lagi biaya obat dan kontrol rutin yang juga tidak murah.

Sesuai dengan visi misi PMI Solo yakni meringankan penderitaan orang apalagi yang sakit dan tidak punya biaya, untuk pasien gagal ginjal yang tidak mampu dibebaskan dari biaya pengobatan.

Dokter yang bergabung dengan PMI Solo dari tahun 2013 ini bercerita ada banyak kejadian yang menguras emosi di Klinik Hemodialisa. Bagaimana tidak? Yang dihadapi adalah pasien yang merasa sudah tidak ada harapan hidup, pesimis akan hari esok dan kehilangan semangat hidup. Selain melakukan pengobatan secara medis, team Klinik Hemodialisa juga memberikan pengobatan psikis kepada para pasien dengan cara terus memotivasi, membangkitkan semangat dan berusaha menumbuhkan harapan pasien. Di Klinik Hemodialisa ini secara otomatis pasien sudah seperti keluarga sendiri karena pasti bertemu seminggu 2x jadi tumbuh rasa kekeluargan yang hangat di tengah mereka berjuang mengembalikan semangat hidup.

Pasien Klinik Hemodialisa PMI Solo tidak hanya dari Solo saja tetapi ada beberapa pasien yang berasal dari luar kota seperti Pati, Sragen, Wonogiri, Ngawi dan banyak daerah lainnya. Dari para pasien tersebut ada pasien termuda yang berusia 17 tahun (masih SMA) dan pasien yang sedang menyelesaikan kuliahnya. Bagaimana bisa masih muda sudah gagal ginjal. Jawaban dr. Ardita sederhana, karena pasien tersebut cukup lama rutin mengkonsumsi minuman- minuman instan.